Berdasarkan riset Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) dengan alamat website https://pafitigaraksa.org, gangguan kepribadian paranoid dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Orang yang mengalami gangguan kepribadian paranoid cenderung menghindari berbicara langsung dengan teman atau keluarga, terus menyimpan dendam, dan percaya bahwa setiap orang dapat mengancam kehidupan dan keselamatan dirinya.
Berikut adalah beberapa faktor utama penyebab terjadinya gangguan kepribadian paranoid yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Faktor genetik atau riwayat keluarga
Orang dengan riwayat keluarga yang menderita skizofrenia atau gangguan kepribadian lainnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kerabat dekat yang memiliki gangguan kepribadian paranoid memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengembangkan kondisi serupa.
2. Pengalaman masa kecil yang buruk
Pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan, seperti diabaikan secara emosi, fisik, atau mengalami kemarahan orang tua yang ekstrem, dapat menjadi penyebab munculnya gangguan ini. Anak-anak yang mengalami pengabaian atau penelantaran seringkali mengembangkan pola pikir yang curiga dan tidak percaya pada orang lain karena merasa tidak aman atau tidak dipercaya.
3. Pola asuh orang tua
Pola asuh yang tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dan orang lain dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan ini. Orang tua yang terlalu protektif atau kontrol dapat membuat anak merasa tidak aman dan kurang percaya diri, yang kemudian berkembang menjadi rasa curiga terhadap orang lain.
4. Trauma usia dewasa
Trauma yang dialami pada usia dewasa, seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, atau kehilangan orang yang dicintai, juga dapat memicu gejala paranoid pada beberapa orang. Hal ini terutama terjadi jika individu tersebut memiliki kerentanan sebelumnya terhadap gangguan kepribadian paranoid.
5. Faktor sosial dan budaya
Lingkungan sosial dan budaya juga memainkan peran dalam pembentukan pola pikir paranoid. Misalnya, hidup dalam masyarakat yang sangat kompetitif atau memiliki tekanan sosial yang tinggi dapat meningkatkan rasa curiga dan ketidakpercayaan terhadap orang lain.
PAFI telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab gangguan kepribadian paranoid yang terjadi pada remaja hingga orang dewasa. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala gangguan kepribadian paranoid serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
1. Obat antipsikosis atipikal
Obat antipsikosis atipikal seperti risperidone, quetiapine, olanzapine, clozapine, dan ziprasidone bekerja dengan mengendalikan kadar serotonin dan dopamin di otak. Obat-obatan ini dapat membantu menekan gejala paranoid, terutama jika gejala tersebut berat atau menyebabkan gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari seperti delusi atau halusinasi.
2. Obat antipsikotik konvensional
Obat antipsikosis konvensional seperti thioridazine dan haloperidol bekerja dengan menghambat dopamin di otak, yang dapat mengurangi gejala delusi dan agitasi.
3. Obat antidepresan
Jika pengidap gangguan kepribadian paranoid juga mengalami depresi, antidepresan dapat digunakan untuk membantu menyeimbangkan neurotransmitter di otak dan mengurangi gejala depresi.