Manokwari (ANTARA) - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Manokwari, Papua Barat mengantisipasi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, terutama komoditas ikan, bawang merah dan bawah putih menjelang hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua Barat, Setian di Manokwari, Selasa, mengatakan berdasarkan hasil survei harga hingga pekan ketiga Maret ini, terdapat beberapa komoditas diperkirakan mengalami kenaikan harga, diantaranya ikan berbagai jenis, bawang merah, bawang putih, tarif listrik dan transportasi udara.
"TPID perlu menyadari sejak akhir Maret hingga awal April komoditas ikan dan bawang merah akan memberi tekanan kepada inflasi," kata Setian dalam pertemuan TPID Manokwari yang dipimpin langsung oleh Bupati Hermus Indou.
Menurutnya, kenaikan harga ikan dipengaruhi beberapa faktor, selain cuaca, juga terpengaruh dengan karakteristik nelayan di Manokwari, dimana saat libur panjang para nelayan setempat tidak banyak yang melaut sehingga stok ikan berkurang.
Adapun kenaikan harga bawang merah dan bawang putih disebabkan oleh masalah pengangkutan barang, dimana komoditas tersebut mengandalkan suplai dari luar daerah.
Saat ini pedagang bawang merah dan bawang putih sulit mendatangkan barang dari Makassar karena sejak awal Ramadhan, PT Pelni melarang pengiriman bawang menggunakan kapal penumpang.
"Sedangkan listrik memicu inflasi karena pemerintah baru saja menghentikan diskon tarif listrik. Pemberlakuan diskon listrik telah menyebabkan dampak deflasi cukup dalam di Papua Barat, tapi setelah diskon berhenti tentu akan menekan inflasi," jelasnya.
Sebagai upaya pengendalian inflasi, BI merekomendasikan Pemkab Manokwari lebih giat melakukan sidak ke pasar dan memantau harga pasar.
"Para pedagang harus dimonitor secara berkelanjutan agar tidak terjadi aksi spekulasi menaikkan harga. Pemda juga harus optimalisasi kegiatan pasar murah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus dapat mengontrol harga barang," saran Setian.
Hal senada diutarakan Kepala BPS Papua Barat, Merry.
Menurutnya, dengan dihentikannya diskon tarif listrik maka diperkirakan tarif listrik akan memberikan andil besar kepada inflasi bulan Maret 2025.
Apalagi sebelumnya, tarif listrik memberi andil cukup besar terhadap deflasi di Papua Barat secara month-to-month, dimana pada Januari deflasi mencapai 2,38 persen dan pada Februari mencapai 0,21 persen.
Meskipun ada kebijakan penurunan harga tiket pesawat, namun di Papua Barat secara umum tarif angkutan udara masih mengalami inflasi. Hal itu disebabkan mahalnya tarif angkutan udara rute Manokwari-Makassar akibat gelombang mudik libur lebaran.
"Komoditas penyumbang inflasi yaitu tarif listrik (setelah diskon dihapus), beberapa jenis ikan, bawang putih dan bawang merah serta angkutan udara. Beberapa komoditas pangan pokok mengalami sedikit inflasi tapi masih dalam taraf terkendali seperti gula pasir dan telur," beber Mery.
Menyikapi hal itu, Bupati Manokwari Hermus Indou mengatakan jajarannya segera melakukan langkah-langkah untuk stabilisasi harga pangan melalui OPD teknis dengan menggelar pasar murah maupun sidak ke pasar.
Melalui dua kegiatan itu diharapkan dapat mengendalikan inflasi daerah serta memperkuat ketersediaan dan distribusi pangan.
Berdasarkan pantauan harga bahan pokok pada sejumlah pedagang pengecer di Pasar Inpres Wosi Manokwari, Rabu, bawang merah saat ini dijual seharga Rp60 ribu/kg, bawang putih Rp55 ribu/kg. Sebelumnya harga bawang merah dan bawang putih dijual pada kisaran Rp45 ribu/kg-Rp50 ribu/kg.
Adapun harga ikan bervariasi, tergantung jenis dan ukuran, berkisar mulai dari Rp50 ribu per ekor.