Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Manokwari, Papua Barat, mengoptimalkan sosialisasi pencabutan surat rekomendasi dari Kementerian Agama sebagai salah satu syarat permohonan paspor haji dan umroh.
 
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Manokwari Iman Teguh Adianto di Manokwari, Selasa, mengatakan metode sosialisasi dilakukan melalui media digital dan tatap muka dalam berbagai kegiatan dengan masyarakat. 
 
"Kan tidak semua orang punya media sosial, jadi kami lakukan secara langsung," kata Iman Teguh. 
 
Ia menjelaskan Direktorat Jenderal Imigrasi mencabut surat rekomendasi tersebut bertujuan untuk memudahkan masyarakat memperoleh paspor. 
 
Meski demikian, Imigrasi tetap menerapkan mekanisme wawancara agar penerbitan paspor haji dan umroh tidak disalahgunakan. 
 
"Setelah berkas kita periksa, kita wawancara pemohon paspor," jelas dia. 
 
Pihaknya, kata dia, menerapkan sistem jemput bola pengurusan paspor haji dan umroh bagi masyarakat di lima kabupaten yaitu Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Pegunungan Arfak, dan Teluk Wondama. 
 
Namun, terlebih dahulu Imigrasi berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama dari masing-masing kabupaten guna mendata jumlah masyarakat yang akan berangkat haji dan umroh. 
 
"Misalnya di Bintuni ada 20-25 orang, tidak usah mereka ke Manokwari tapi kami yang ke Bintuni," ujar dia. 
 
Ia memastikan Imigrasi Manokwari tidak memungut biaya tambahan dalam memberikan layanan penerbitan paspor melalui program inovasi seperti jajan papeda (jelajah layanan paspor pergi desa). 
 
Masyarakat hanya menyediakan biaya penerbitan paspor sesuai standar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yaitu Rp350 ribu paspor biasa dan Rp650 ribu paspor elektronik. 
 
"Setiap ada kegiatan penertiban paspor di daerah kita sosialisasikan soal pencabutan surat rekomendasi itu," jelas dia. 
 
Kepala Seksi Pelayanan dan Verifikasi Dokumen Perjalanan Imigrasi Kelas I Non TPI Manokwari Lukie Reza Kusumah menuturkan, program inovasi jajan papeda bermaksud mendekatkan layanan penerbitan paspor bagi masyarakat yang diselenggarakan sejak 2022.
 
Selain itu, Imigrasi Manokwari juga memiliki program inovasi lainnya yaitu eazy paspor di luar kantor bagi komunitas masyarakat, instansi pemerintah, instansi swasta, dan biro umroh. 
 
"Program eazy paspor sudah empat kali kita laksanakan," kata dia. 
 
Ia melanjutkan program inovasi lainnya yang dilakukan secara berkala di Manokwari City Mal (MCM) adalah si maleo atau siap melayani lewat mobile. 
 
Layanan tersebut telah dimulai sejak tahun 2022 guna memudahkan masyarakat mengurus penertiban paspor baik perpanjangan atau pengurusan baru. 
 
"Si maleo kita buka sebulan sekali pada akhir pekan, tahun ini kita jadwalkan sebulan dua kali," jelas Lukie. 
 
Menurut dia program inovasi yang paling diminati oleh masyarakat setempat adalah program si maleo dan jajan papeda
 
Animo masyarakat dari setiap pelaksanaan kedua program inovasi itu terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. 
 
"Kendalanya hanya jaringan internet. Jadi sebelum kita datangi lokasi pemohon, kita pastikan jaringan dulu," ujar Lukie. 

Pewarta: Fransiskus Salu Weking

Editor : Evarianus Supar


COPYRIGHT © ANTARA News Papua Barat 2023