Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat resmi menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Eceran Nyata (HEN) bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang dijual di daerah itu.

Wakil Bupati Teluk Wondama Andarias Kayukatuy di Wasior, Kamis, mengatakan penetapan HET dan HEN BBM bersubsidi di Teluk Wondama diatur dalam Surat Edaran Bupati Teluk Wondama Nomor: 338/308/BUP-TW/2022 tanggal 6 September 2022.

Dalam surat edaran Bupati Teluk Wondama itu, katanya, HET untuk BBM jensi Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp.6.800 per liter atau setara dengan harga yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

HET itu hanya berlaku untuk pembelian/penjualan pada dua APMS atau SPBU Kompak di Teluk Wondama yakni PT Papua Bumi Kasuari (PBK) dan KSU Cinta Nelayan.

Sementara harga eceran nyata (HEN) BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer maupun subagen dari APMS ditetapkan bervariasi pada setiap wilayah dengan harga terendah sebesar Rp11.500 per liter untuk wilayah Wasior dan sekitarnya. Sementara Distrik Rumberpon menjadi wilayah dengan harga tertinggi yakni Rp13.800 per liter.

Secara lengkap HEN BBM jenis Pertalite untuk 13 distrik di Teluk Wondama yakni Distrik Wasior Rp11.500, Wondiboi Rp11.500, Rasiei Rp11.500, Teluk Duairi Rp12.000, Roon Rp12.900, Roswar Rp13.400, Windesi Rp12.900, Werianggi (Nikiwar) Rp13.400, dan Wamesa (Sabubar, Karuan, Ambuar) Rp13.500.

Selanjutnya, Soug Wepu (Kaprus, Yarmatum) Rp13.700, Rumberpon (Yembekiri) Rp13.800, dan Naikere Rp12.800.

Surat Edaran Bupati Teluk Wondama itu juga mengatur tentang peruntukan BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Biosolar hanya untuk usaha mikro, usaha pertanian, usaha perikanan, transportasi, dan pelayanan umum sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak.

"Sedangkan kebutuhan BBM untuk kendaraan dinas operasional instansi pemerintah, BUMN/BUMD, untuk industri menengah dan besar atau perusahaan swasta wajib menggunakan BBM non subsidi (pertamax dan dexlite)," kata Andarias.

Penetapan HET dan HEN BBM bersubsidi khususnya Pertalite disambut positif oleh masyarakat khususnya di Kota Wasior.

"Tidak apa-apa kalau harga Pertalite Rp11.500 per liter, yang penting jangan sampai Rp13.000 atau Rp15.000, karena sekarang ini kita beli saja sudah sampai Rp20.000 per liter," tutur Ardi, seorang tukang ojek di Kota Wasior.

Oktovina Karubuy Rumadas mewakili pedagang Mama-mama Papua di Pasar Sentral Iriati juga tak mempersoalkan penetapan harga eceran Pertalite di tingkat pengecer.

Mama Oktovina yang berasal dari Tandia, Distrik Rasiei berharap penetapan HET dan HEN diikuti dengan pengawasan sehingga tidak terjadi permainan harga di lapangan.

"Mama setuju karena tadi pagi Mama dari Tandia ke sini taksi sudah naik harga. Supir bilang minyak sudah naik sehingga ongkos juga naik. Jadi Mama harap pemerintah atur baik supaya masyarakat ini tidak tambah susah. Kalau harga sudah begitu, mereka harus turun cek," kata Oktovina ditemui di Pasar Iriati.

Pewarta: Zack Tonu B

Editor : Evarianus Supar


COPYRIGHT © ANTARA News Papua Barat 2022