Kemkes jelaskan perbedaan ODP hingga "confirm" COVID-19

Kemkes jelaskan perbedaan ODP hingga

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan sekaligus juru bicara penanganan COVID-19 Achmad Yurianto di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Kamis (5/3/2020). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemkes) menjelaskan perbedaan Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), suspect dan confirm sebagai istilah yang digunakan dalam penanganan penyebaran virus corona tipe baru atau COVID-19.

Pertama, ODP adalah Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA) yang masuk ke negara Indonesia dari negara yang terkonfirmasi di wilayahnya terjadi penularan COVID-19.

Baca juga: IDI bentuk satgas rekomendasikan pemerintah perluas skrining COVID-19

"Semua orang yang datang ke Indonesia, apapun kewarganegaraannya manakala berasal dari negara yang kita pastikan penularan dari orang ke orang positif kuat yaitu China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Italia dan Iran, kita masukkan orang ini sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP)," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemkes sekaligus juru bicara penanganan COVID-19 Achmad Yurianto di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jakarta, Kamis.

Orang dalam pemantauan tersebut, menurut Yuri, bisa saja tidak sakit.

"Kita melakukan pemantauan agar cepat tracking, tracing kalau terjadi sesuatu terkait COVID-19," katanya.

Baca juga: Satu WNA "suspect" Covid-19 dipulangkan karena negatif

Jika ODP menunjukkan gejala sakit sesuai dengan COVID-19 maka statusnya naik menjadi Pasien Dalam Pengawasan (PDP). PDP adalah mereka yang menunjukkan gejala influenza ringan hingga berat.

"Bila ODP ini mengalami sakit gejala influenza, batuk, panas, sesak, maka kita akan masukkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), PDP ini yang harus betul-betul kita perlakukan dengan baik karena sudah jadi pasien. Hal pertama yang ditanya adalah apakah ada riwayat kontak dengan yang positif COVID-19, kalau ada dan kuat kita tempatkan dia sebagai 'suspect' COVID-19," tambah Yurianto.

Selanjutnya, pasien suspect COVID-19 akan diperiksa spesimennya menggunakan dua metode, yaitu Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Genome Sequencing.

"Banyak sekali kasus terlaporkan positif tapi gejala tidak terlalu berat, gejala untuk akses pemeriksaan spesimen saat ini tidak dalam kondisi 'suspect', tapi sejak PDP langsung kita lakukan pemeriksaan virus," ujar Yuri.

Baca juga: Indonesia larang masuk pendatang pernah kunjungi Iran, Italia, Korsel

Hingga saat ini, Indonesia memiliki dua kasus positif COVID-19 yang dinamakan kasus 1 dan kasus 2 yaitu seorang ibu berusia 64 tahun dan anaknya berusia 31 tahun. Keduanya sejak 1 Maret 2020 dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.

Hingga Kamis siang (5/3), pukul 14.00 WIB, terkonfirmasi di dunia ada 95.137 orang yang terinfeksi SARS CoV-2 dengan 3.285 kematian, sedangkan sudah ada 53.219 orang dinyatakan sembuh.

Penyebaran penyakit itu di China mencapai 80.272 kasus, di Korea Selatan 5.621 kasus, di Italia 3.089 kasus, di Iran 2.922 kasus. Tingkat kematian di Italia menjadi yang paling tinggi di luar China yaitu 107 kematian dibanding kasus yang positif, sementara di China sendiri ada 3.012 orang meninggal dunia karena virus tersebut.

Sudah ada 65 negara termasuk Indonesia yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19 di negaranya.

Baca juga: Ganjar larang Kapal Pesiar Viking Sun bersandar di Semarang
Baca juga: Pasien dalam pengawasan di RSUP Persahabatan tidak ada riwayat kontak
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2020