Muhammadiyah membuka prodi Bahasa Indonesia di Mesir

Muhammadiyah membuka prodi Bahasa Indonesia di Mesir

Tokoh Muhammadiyah Sulawesi Selatan DR. Abdurrahim Razak M.Pd dalam Bincang Sore dan Temu Kader Muhammadiyah Mesir belum lama ini. ANTARA/id.abna24.com

Kuala Lumpur (ANTARA) - Pimpinan Pusat Muhammadiyah membuka Program Studi Bahasa Indonesia pada sejumlah perguruan tinggi di Mesir bekerja sama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta yang juga Ketua Panitia Muktamar Muhammadiyah 2020 Prof Dr Sofyan Anif mengemukakan hal itu di Kuala Lumpur, Selasa, saat membicarakan internasionalisasi Muhammadiyah.

“Kita menghendaki untuk memperbanyak Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA). Kami akan kerja sama diantaranya dengan Al Azhar untuk membuka Prodi Bahasa Indonesia,” katanya.
Baca juga: Muhammadiyah : Kebijakan Politik LN Indonesia Perlu Reposisi

Sofyan mengatakan saat ini banyak orang Timur Tengah yang ingin belajar Bahasa Indonesia.

“Para juragan juga ingin komunikasi dengan pembantunya Selama ini mereka belajar dari kursus,” katanya.

Pada kesempatan yang sama dia mengatakan Muhammadiyah akan membuka cabang di Alexandria dan Ismailiyah Mesir.

“Di Melbourne kami sudah membeli tanah dan saat ini sudah didirikan TK. Di Malaysia kita hanya boleh memiliki 49 persen saham. Sekarang muncul ide mendirikan Universitas Muhammadiyah di Perlis,” katanya.
Baca juga: Muhammadiyah bakal buka kampus di luar negeri

Dia mengharapkan agar program internasionalisasi tersebut didukung oleh amal usaha Muhammadiyah dengan semangat taawun atau saling tolong menolong.

Pada kesempatan tersebut Ketua PCIM Malaysia Assoc Prof Dr Sonny Zulhuda mengatakan saat ini PCIM Malaysia mendapatkan kesempatan berharga membina TKI.

“Kami mengapresiasi para TKI sehingga banyak dilakukan capasity building, kursus dan pengajian,” kata Bendahara Majelis Tabligh tersebut.

Sonny mengatakan TKI yang dibina Muhammadiyah merupakan TKI berkemajuan yakni tidak hanya mencari uang tetapi juga berdakwah.

“Mereka juga TKI yang berilmu. Mereka masih menjadi sumber devisa negara. Mereka TKI bermartabat dan memiliki nilai plus,” katanya.
Baca juga: 30 Perguruan Tinggi Muhammadiyah gandeng Universitas Brunei

Pewarta : Agus Setiawan
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019